Ekaristi dan Transformasi Moral

Oleh P. PAULUS TRI PRASETIJO, Pr.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kerahiman Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

BEBERAPA minggu menjelang Perayaan Paskah, pada hari Selasa 13 Maret lalu, dipublikasikan sebuah seruan apostolik yang berjudul Sacramentum Caritatis (Sakramen Cinta Kasih) yang sebelumnya sudah ditandatangani oleh Paus Benediktus XVI, tanggal 22 Februari 2007.

Seruan mengenai Ekaristi ini merupakan rangkuman, penyempurnaan dan pendalaman perenungan Paus Benediktus XVI terhadap hasil sinode (pertemuan) umum biasa ke-11 para uskup, di Roma, 2-23 Oktober 2005. Diapit oleh pendahuluan dan penutup, seruan ini memuat tiga bagian pokok yaitu pertama, Ekaristi, misteri untuk diimani; kedua, Ekaristi, misteri untuk dirayakan; dan ketiga, Ekaristi, misteri untuk dihidupi. Untuk mempermudah pemahaman, tiga unsur pokok itu diuraikan dalam 97 nomor.

Ekaristi senantiasa dirayakan oleh umat Katolik. Karena dirayakan terus-menerus, bisa jadi muncul sebuah penghayatan sebatas ritual saja. Jangan-jangan, Ekaristi hanya menjadi urusan personal atau paling banter merupakan keperluan internal Gereja Katolik. Padahal pada hakikatnya, Ekaristi itu berdimensi lebih luas. Seruan apolistik ini mengingatkan kembali hal tersebut melalui nomor 82 yang diberi judul “Ekaristi dan Transformasi Moral”.

Dikatakan bahwa Ekaristi yang dirayakan dalam hidup manusia memberikan energi moral untuk mempertahankan kebebasan otentik sebagai anak-anak Allah. Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa kehidupan moral mempunyai nilai ibadah rohani (bdk. Roma 12:1 dan Filipi 3:3) yang mengalir dari dan dihidupi oleh sumber kesucian dan pemuliaan Allah yang tak pernah kering dan dapat ditemukan dalam sakramen-sakramen, terutama dalam Ekaristi. Dengan ambil bagian dalam pengorbanan salib, umat Kristiani ikut serta pula dalam cinta pemberian diri Kristus.

Umat Kristiani diperlengkapi dan berjanji untuk menghidupkan cinta kasih yang sama ini dalam pikiran maupun tindakan. Dalam makna kata ibadah itu sendiri, menyambut komuni dalam Perayaan Ekaristi mencakup kenyataan baik dicintai maupun sebaliknya mencintai sesama. Maka, Ekaristi yang tidak terwujud dalam tindakan nyata cinta tidak sesuai dengan hakikatnya.

Nilai-nilai moral dalam ibadah rohani itu jangan diinterpretasikan sebatas cara moralistik saja. Nilai moral itu juga meliputi pencarian cinta yang berisikan kegembiraan dan yang bekerja pada hati mereka yang menerima anugerah Tuhan, yang menyerahkan diri mereka kepada-Nya dan yang oleh karena itu menemukan kebebasan sejati.

Transfromasi moral yang dibentuk secara implisit oleh Kristus dalam ibadah yang baru, terjadi dalam kerinduan sepenuh hati untuk menjawab cinta Tuhan dalam keseluruhan dirinya sambil tetap menyadari kelemahan dirinya sendiri. Dalam Injil, hal ini jelas terefleksikan dalam kisah Zakheus (bdk. Lukas 19:1-10). Setelah menyambut Yesus di dalam rumahnya, pemungut pajak ini berubah total.

Dia memutuskan untuk memberikan separuh harta miliknya kepada kaum miskin dan akan membayarkan uang, empat kali lipat jumlahnya, kepada orang yang telah dia peras. Dorongan untuk berubah secara moral karena menerima Yesus dalam hidup kita, merupakan buah syukur karena kita mengalami kedekatan dengan Allah yang tanpa pamrih.

Momentum peluncuran seruan apostolik ini sangat pas karena menjadi bahan permenungan lebih lanjut dalam merayakan Paskah. Tri Hari Suci Paskah diawali dengan Perayaan Kamis Putih untuk mengenangkan peristiwa perjamuan malam terakhir. Dalam perjamuan itu Tuhan Yesus membasuh kaki para murid-Nya sebagai wujud nyata pelayanan yang memancar dari cinta kasih. Akhirnya, Dia memberikan tubuh dan darah-Nya sebagai bekal rohani yang siap disantap. Kemudian, pemberian diri Yesus itu berpuncak pada penyerahan diri-Nya di kayu salib. Kayu salib ternyata tidak merupakan akhir segalanya karena Allah membangkitkan Putera-Nya dari alam kematian.

Kemudian, kepada para pengikut-Nya, Tuhan Yesus memercayakan pelanjutan karya keselamatan dunia. Memang, kita bukan aktor utama karena bagaimana pun Roh Kuduslah yang bekerja dalam diri kita. Karena rahmat-Nya, kita boleh berharap dimampukan untuk berperan serta dalam transformasi moral. Tentu, transformasi moral itu terjadi mula-mula dari diri kita terlebih dahulu. Semoga Allah yang menciptakan dunia seisinya ini baik adanya akan mendapati kembali seluruh ciptaan-Nya dalam keadaan baik.***

*Penulis, pastor Gereja Katolik, tinggal di Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: