CURHAT kepada TUHAN

Oleh : P. Metodius Sarumaha, Ofm Cap.

Pada sore hari menjelang perayaan malam Paskah, seorang teman dari sahabatku seakan dia menemukan dirinya kembali sehingga mau datang curhat kepada Tuhan dan dengan sikap merendah dia mulai :

Tuhan, Engkau tahu aku sudah lama tidak datang bertamu di rumah-Mu, sekarang tiba-tiba aku datang. Maafkan bila kedatanganku ini sepertinya tiba-tiba sehingga membuat orang lain heran dan Engkau sendiri juga mungkin geleng kepala melihat aku datang di sini.

Begini soalnya, entah kenapa, teman-temanku sudah sering mengatakan kepada saya: „pergunakanlah sedikit waktumu untuk curhat kepada Tuhan siapa tahu dengan itu kamu bisa merasa longgar dari segala kesesakan yang kamu hadapi setiap hari.“. Aku sering tidak bisa mengerti mengapa mereka mengatakan hal itu padaku. Aku sudah bosan mendengar mereka. 

Tuhan, Engkau kan tahu kalau aku sedang duduk atau berdiri, sedang tidur atau bangun, sedang bekerja atau istirahat, sedang sendiri atau bersama orang lain. Jadi dalam semua situasiku Tuhan sudah tahu siapa aku ini. Lalu mengapa lagi teman-temanku mengatakan kepadaku : Curhatlah pada Tuhan, curhatlah …! Apa lagi maksudnya itu? Terus terang saja kukatakan justru karena desakan mereka itu sering kepalaku pusing tujuh keliling memikirkannya.

Hari ini, kini dan di sini di hadapan-Mu, aku berlutut, menundukkan kepala, dan mengatupkan kedua tanganku. Sudah sekian lama aku punya kebiasaan bangun pagi-pagi dan pergi tidur larut malam. Bangun pagi-pagi benar dan cepat-cepat bersiap diri pergi ke tempat kerja. Dalam perjalanan menuju tempat kerja aku sering ngantuk. Di tempat kerja kadang aku tertidur. Pada jam makan dan minum aku berusaha hadir tepat waktu. Empat kali dalam seminggu, aku memperpanjang waktu kerjaku sampai tengah malam. Sehingga aku baru pergi tidur sudah larut malam. Kesibukanku bekerja dari hari ke hari juga menjadi alasanku untuk mengeluh pada diriku sendiri: „Ah … capek aku bekerja !“

Tuhan, mengapa aku merasa seolah-olah hidupku ini seperti beban berat yang harus kupikul setiap hari. Sepertinya banyak sekali kebutuhan yang mendesak dan harus kupenuhi. Kalau semua kebutuhan yang saya pikir itu tidak terpenuhi, sepertinya saya merasa ketinggalan atau tidak seperti orang lain yang kebutuhannya selalu saja mudah mereka penuhi. Apa lagi dalam masa kini, saya melihat penampilan orang lain serba wahhh…!! Saya juga kan anak zaman ini. Apa nanti kata orang kalau saya tidak ikut menyesuaikan diri dengan dunia ini, dengan segala kemajuan zaman ini ?

Dalam banyak kesempatan aku mempersalahkan diriku dan orang-orang di sekitarku. Saya tidak tahu persis mengapa itu terjadi, tapi yang jelas kalau ada sesuatu yang saya inginkan dan tidak bisa terwujud maka saya mengeluh dan mempersalahkan orang lain. Bukan itu saja, aku pun mudah sekali merasa iri hati melihat orang lain berhasil. Saya orangnya tidak suka dikritik, kurang sabar dan cepat marah. Saya lebih senang di dengar daripada mendengar orang lain. Mendengar orang lain sepertinya tidak menarik, aku cepat merasa bosan. Dan banyak lagi yang lain-lain yang saya pikir tidak perlu semua saya katakan sekarang sebab nanti Tuhan sendiri pun menjadi bosan mendengarkan saya.

Tuhan, aku punya seorang sahabat. Dia sudah sering memperhatikan aku dalam keadaanku yang ku sebut-sebut tadi. Sahabatku itu, dia terbuka saja mengatakan kalau mau menasehati aku. Misalnya, dia pernah menasehati aku supaya aku menjadi orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati, kata sahabatku itu, adalah orang yang tidak bersikap angkuh, tidak sombong. Sebaliknya juga tidak merasa rendah diri atau minder bila bersama dengan orang lain. Orang rendah hati sikapnya tidak dibuat-buat tapi wajar-wajar saja. Sikap rendah hati ini adalah buah dari pengenalan diri. Orang menjadi rendah hati karena dia mengenal dirinya sendiri. Artinya, mengenal yang positip dan negatip; mengenal kemampuan dan keterbatasan yang ada pada dirinya. Karena pengenalan diri ini, maka dia menjadi sadar bahwa dirinya belum sempurna. Ketidak sempurnaan ini bisa menimbulkan kesulitan dengan orang lain. Tetapi dia juga bisa menyumbangkan sesuatu bagi orang lain sesuai kemampuan yang ada padanya. Tanpa sikap rendah hati orang akan selalu merasa resah dan cemas. Kecuali itu, tanpa kerendahan hati, orang akan sering mengatakan sesuatu atau bertindak tanpa memerhitungkan lebih dahulu apa akibat-akibatnya bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Memang, soal menjadi orang rendah hati ini, saya juga pernah dengar itu dari guruku waktu masih sekolah, tapi itu sudah la…ma sekali !.

Tuhan, inilah curahan hatiku kepada-Mu, maklum saja kalau aku agak sembarangan mengungkapkannya sebab memang seperti Engkau sudah tahu, aku ini orang yang jarang sekali datang bertamu di rumah-Mu. Mengenai nasehat sahabatku tadi, yaitu supaya aku menjadi orang yang rendah hati, ya akan kurenungkan itu lagi, dan sedapat mungkin bisa menjadi sikapku. Maafkan aku dari segala kelalaianku, dan semoga Tuhan membantu aku dengan Rahmat-Nya yang sangat kubutuhkan untuk membaharui sikap hidupku sehari-hari.

Pada akhir Curhatnya dan beberapa saat setelah mengheningkan batinnya, ia merasakan Tuhan dekat dan berkata padanya : „Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah padaku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan“ (Mat 11:29).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: