Si Tukang Kayu

Oleh: P. Metodius Sarumaha

      Pernah ada seorang tukang kayu tua bermaksud untuk segera pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut kepada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama isteri dan keluarganya. Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang tenaga kerja terbaiknya. Ia meminta si tukang kayu itu untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Si tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta oleh pemilik perusahaan itu.  

      Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah kepada si tukang kayu. “Inilah rumahmu,” katanya, ”hadiah dari kami”. Betapa terkejutnya si tukang kayu itu. Betapa malu dan menyesalnya dia. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

      Kisah si tukang kayu itu tidak jauh dari kisah hidup kebanyakan dari orang masa kini. Banyak dari kita membangun kehidupan dengan setengah-setengah hati atau asal sudah saja. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang terbaik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Akhirnya, kita sendiri yang terkejut melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah buatan kita sndiri. Seandainya kita menyadari betul sejak awal, tentu kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh lebih bijaksana.

Mari kita coba renungkan, apa yang dialami si tukang kayu itu, jauh atau dekat sekali dengan hidup kita? Semoga selanjutnya kita mau memperhitungkan segala sesuatu yang akan terjadi dari segala kemungkinan. Lalu, berjuang dan mengerjakan segala yang dipercayakan dan diharapkan dari kita dengan cara yang terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: