Kembalikan Natalku

lilin.jpgApa yang istimewa pada Natal sebenarnya? Pohon Natal tidak penting karena di gurun pun kita seharusnya dapat merayakan Natal tanpa sepotong pohon Natal. Salju yang harus tersedia demi nyanyian White Christmas juga tidak mutlak, karena di Argentina atau Madagaskar atau New Zealand natalan pakai salju merusak seluruh konteks setempat yang sedang musim panas.

Gua kandang menjadi hiasan aneh untuk suatu kompleks yang berisi anak-anak kecil, yang belum pernah melihat kandang lembu, selain di Kebun Binatang; padahal Kebun Binatang sama sekali bukan latar belakang tepat untuk menggambarkan susah payahnya Maria dan Yoseph mencari penginapan. Gembala dengan kambingnya memberi gambaran asing bagi anak-anak kota, yang juga ingin menemukan makna Natal sebenarnya.

Sewaktu saya menyarankan mengubah nyanyian Natal dengan nyanyian setempat, ada yang protes: itu sudah menjadi milik umat semesta sehingga tidak perlu diganti. Tentu saja kita harus berterimakasih kepada Joseph Mohr dan Franz Xaver Gruber yang di tahun 1818 menggubahnya. Tetapi kita lihat kata-katanya saja “Stille Nacht, heilige Nacht! Alles schläft, einsam wacht nur das traute, heilige Paar. Holder Knab im lockigen Haar: Schlafe in himmlischer Ruh!” (sebaiknya tak diterjemahkan karena terjemahannya sekarang sudah beraneka macam; hampir semuanya memperhalus maksud semulanya). Kata dan melodi yang melantunkan keheningan. Sementara itu, di luar gedung ada sekelompok polisi/tentara menjaga agar ibadat kita tidak dikacau orang yang tidak suka. Tentu saja kita berterimakasih kepada pihak keamanan, yang secara ekstra, pasti berusaha keras menjaga semua ibadat Natal tahun ini.

Merayakan Kepalsuan?

Tetapi keheningan macam apa yang sebenarnya kita madahkan? Keheningan selama beberapa jam ini-kah? Lalu kita hiruk pikuk lagi? Kalau demikian keheningan semu dan keheningan ritual saja. Lalu kita merayakan apa? Kita merayakan kepalsuan? Dan kepalsuan itu tidak hanya berkaitan dengan ritus Kristiani, melainkan kepalsuan politis juga, yang penuh dengan topeng serta rekayasa sedemikian sehingga kosmetik tebal menutupi kebusukan (=corruptio) tak terperi. Bahkan sidang sebesar Sidang ekologi Bali tidak dapat menghilangkan tippex yang menutupi kejahatan ekologis di banyak sekali kota besar dunia: pertanda jurang besar menganga untuk menerkam miliaran orang di sekitar kita.

Sebenarnya, Dia yang datang itu dan sekarang maunya kita rayakan itu, bermaksud menjembatani segala kesenjangan itu, menutup jurang-jurang komunikasi dan menyambung relasi antara surga dan dunia. Tetapi ritus beberapa jam atau pohon Natal beberapa meter atau rantai hiasan warna warni itu malah menyebabkan kita silau dan tidak dapat melihat kebenaran di dunia ini: ya Sang Kebenaran kita benamkan dalam tumpukan kembang kertas. Kerap kali kita marah kalau ada orang muda atau “mulut lancang” berseru, betapa Gereja atau Gereja-gereja kita atau masyarakat kita telah mengecat kebenaran sehingga tertutup dengan hiasan-hiasan yang manis.

Sewaktu Dia datang, Herodes, raja lelucon itu mencoba menghibur diri (=kita semua) dengan argumen penundaan bakti guna menantikan bukti ilmiah mengenai kehadiran Sang Kebenaran serta berlindung di balik istana analisis: tetapi menolak ikut menyembah Tuhan. Sewaktu Dia datang, para cerdik pandai di Ibukota (=kita semua) sibuk mencari dalam lembaran-lembaran sejarah, membuka file-file masa lampau dan mempresentasikannya secara publik untuk menghindar dari keharusan menghormati Tuhan yang menjadi realita masa kini. Sewaktu Dia mendekat, hanya orang-orang melarat yang tetap di darat untuk sempat menjabat hangat.

Kelak Anak Kecil ini akan datang ke Bait Allah untuk membabat habis orang-orang yang memalsukan kepentingan iman dengan perdagangan di tempat suci dan perdagangan barang suci serta perdagangan dengan alasan suci. Apa yang akan Dia lakukan, seandainya sekarang Dia hadir di Ibukota ini dan melihat, bagaimana kita menjual Dia di gedung mewah dan dengan makanan serba nikmat serta mengenakan pakaian serba “wah”? Apa yang akan Dia lakukan terhadap iklan-iklan untuk menyeret Anak Kecil itu ke gemerlap lampu kita? Puaskah Dia akan dalih, bahwa setelah mengalami ditendang-tendang ke sana kemari, umat kita pantas juga merasakan kebersamaan yang manis? Relakah Dia membiarkan Si Kecil ditenteng-tenteng bersama dengan hadiah-hadiah yang merupakan alat cuci kedekilan moral kita?

Jangan-jangan itu semua karena kita segan mencari di balik Pohon Natal atau Gua Natal tradisional; enggan menyingkap kapas bak salju yang menutupi hati kita; tak rela membuka kosmetik yang mengingatkan kita akan wajah kusut kemanusiaan kita. Padahal Dia kita rayakan justru untuk masuk ke dalam kemanusiaan kita yang kusut. Marilah kita berani mengakui kekusutan kita. Marilah kita kembali pada Natal yang asli. Kembalikan Natal kita!
Penulis adalah rohaniwan, Dosen STF Drayarkara

Oleh: BS Mardiatmadja
Sumber: suarapembaruan.com

One Response

  1. benar merayakan natal tdk harus dengan keheningan semata tapi bagaimana kita meresapi dan merenung makna natal.kalau diantara kita melakukan hal seperti saudara katakan bahwa hanya beribadat, make up tebal – tebal bagi itu tdk masalah, karna hanya Tuhan yang tahu bagaimana hub kita dengan Pencipta. jadi kita jgn sekali – kali menjengkal orang dari luarnya.sadarkah kita akan keadaan kita? atau tahukah orang lain bahwa kita juga umat yang soleha? mereka tidk bisa memastikan itu.hanya Tuhan yang lebih tahu.terimakasih.God bless us

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: