“Sisihkan waktumu, untuk bersama Tuhan, walau hanya sedikit waktu… “

Mungkin sebuah cerita yang bisa dibilang lucu ini , dapat mengandung banyak arti buat kita semua.

Selamat membaca.

Vincent

—————————————————————————————–

Ada seorang laki2 paruh baya, umur 50 tahunan.Ia dipanggil A Cong (Ah Chong, ejaan Inggrisnya). Miskin,tetapi jujur dan tekun. Kejujuran dan ketekunan itu mendapat perhatian seorang pemilik toko material di daerah Glodok, Pinangsia, Jakarta.

A Cong diangkat menjadi CEO (chief exec. officer) atau Penanggung jawab penuh toko tersebut. Usaha material itu meraup sukses luar biasa. Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia tak sempat makan dengan teratur.

Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetap melayani. Tetapi, di tengah kesibukannya, setiap jam 12 siang ia menyempatkan diri berlari ke sebuah gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiap hari, sudah lebih dari tiga setengah tahun.

Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang pastor memuncak! Ia telah memperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini digerejanya. A Cong datang di pintu gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda salib, lalu segera bablas pergi lagi. Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja. Adakah udang dibalik batu??? Jangan-2…

Romo yang penasaran itu mencari kesempatan menghadang si A Cong, dan bertanya tanpa basa-basi lagi:”Maaf, Cek (panggilan menghormat bagi laki2 Cina) kenapa Encek saben ari datang jam 12 begini, cuman bediri aja di pintu, bikin tanda salib, terus cepet-2 pergi?”. Kaget, si A Cong menjawab tersipu: “Hah !?… Lomo, owe ini olang sibuk, owe punya waktu selikit, tapi owe seneng dateng kemali.”
Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak: “Emangnya apa yang Encek lakukan di pintu gereja gitu?” Jawab A Cong dengan polos: “Ngga ada apa-2. Benel Owe cuman bilang ini doang : Tuhan Yesus, ini owe, A Cong. Uuudah?. Gitu doangg..” Terbengong, hanya “Oh….!” yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Cong pun bergegas kembali ke tokonya.

Pada suatu hari A Cong sakit parah. Super sibuk dan makan sekenanya, tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehingga ia dilarikan ke rumah sakit. A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3, satu kamar dihuni 8 orang pasien.

Sejak masuknya A Cong, kamar itu menjadi ceria, penuh canda tawa.
Tak terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia pun sembuh dan diperbolehkan pulang. Ia gembira, tentunya, tetapi teman-2 sekamarnya bersedih. Selama dirawat itu, semua sesama pasien dihiburnya. A Cong setiap pagi menghampiri teman-2 pasiennya, satu per satu, dan menanyakan keadaan masing2.Sayang, sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi.

Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: “Eh Cek A Cong,mau nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal penyakit Encek kan serius?”.

Acong tercenung dan menjawab: “Saben ali jam lua welas yah?, ada olang laki lambut gondlong dateng, megang wo punya kaki, dia bilang: A Cong, ini Aku, Yesus. Gimana owe nggak seneng, coba..!!.”

——————————————————————————————

“Sisihkan waktumu, untuk bersama Tuhan, walau hanya sedikit waktu… “

Apa pun yang kamu lakukan adalah doa bagi Bapa di Surga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: