TRUSTING MORE, WORRYING LESS – BAB I. OUR WEAKNESS, GOD’S POWER

Bab I.

http://www.maxlucado.com – (UpWords Ministry)

PENGANTAR

Sebuah perjalanan yang seolah tidak berakhir dalam sebuah Rollercoaster – dan kamu adalah penumpang tetap…..
Terikat, terkunci, terantai di tempat dudukmu.
Kendaraan yang menakutkan itu menghentakkanmu mendadak ke sebuah pojok, dia merenggutmu kesuatu ketinggian yang mustahil, dia mendorongmu, menjatuhkanmu ke bawah ke lembah yang sangat dalam.

hal itu adalah….kecemasan. kamu terjebak. Semakin cemas, semakin rasanya tidak berdaya.
Tuhan tahu kalau kecemasan akan menyebabkanmu seperti ini. Maka Dia berkata, jangan cemas….datanglah pada-Ku dan istirahat….dengan kata lain, percaya kepada-Ku.

Bab. I

Kerajaan Allah. Penduduknya minum dari keajaiban. Perhatikan kasus pertama. Sarai. (1 Genesis 16-18, 21)
Dia sekarang dalam umur keemasannya, tetapi Allah menjanjikannya seorang anak laki-laki. Dia senang. Dia mengunjungi toko ibu hamil dan membeli beberapa potong pakaian hamil. Dia merencanakan mandi wangi-wangian dan mendandani tendanya…tetapi tidak ada anak laki-laki. Dia makan beberapa potong kue ulang tahun dan meniup banyak lilin…tetap tidak ada anak laki-laki. Dia sudah mengganti banyak tanggalan….tetap tidak ada anak laki-laki.
Jadi Sarai memutuskan untuk menyelesaikan masalahnya dengan caranya. (“Mungkin Tuhan membutuhkan aku untuk menyelesaikan perkara ini”).
Jadi dia meyakinkan Abram kalau waktu sudah habis. (“Hadapi kenyataan, Abe, kamu tak akan menjadi muda kembali”).
Dia memerintahkan pembantu wanitanya, Hagar, masuk ke tenda Abram dan menyediakan segala keperluannya. (dan saya maksudkan benar-benar ‘semuanya’!). Hagar masuk sebagai pembantu, keluar sebagai seorang ibu. dan masalah dimulai.
Hagar sombong. Sarai cemburu. Abram pusing karena dilema. Dan Allah menamai bayi laki-laki itu “keledai liar” – nama yang cocok untuk seorang anak yang lahir dari kekeras-kepalaan dan ditakdirkan untuk menerjang ke dalam sejarah.
Itu bukan keluarga yang menyenangkan seperti yang diharapkan Sarai. Dan bukan menjadi topik yang sering dibicarakan mereka saat makan malam.
Akhirnya, 14 tahun kemudian, saat Abram memasuki usia satu abad, dan Sarai 90 tahun…., saat Abram sudah berhenti mendengar nasihat Sarai dan Sarai sudah berhenti memberi nasihat…saat kertas dinding di ruang anak-anak memudar dan perabotan anak sudah ketinggalan beberapa jaman…..saat topik tentang pemberian seorang putra hanya membawa helaan nafas dan air mata dan pandangan lama ke langit yang bisu….Allah mengunjungi mereka dan menyuruh mereka sebaiknya memilih sebuah nama untuk putra baru mereka.
Abram dan Sarai memberi respon yang sama : tertawa. Mereka tertawa separuh karena itu terlalu bagus untuk terjadi dan separuh lagi karena itu mungkin saja terjadi. Mereka tertawa karena telah menyerah, dan harapan akan seorang putra yang akan lahir kelihatannya menjadi lucu sebelum itu menjadi benar-benar kenyataan.
Mereka menertawakan kegilaan ini.

Abram memandang Sarai – sudah ompong dan mendengkur di kursi rodanya, kepala tersandar ke belakang dan mulut terbuka lebar, sesubur buah yang sudah dikeringkan dan juga sudah keriput. Dan dia tertawa, dia mencoba menguasai diri, tapi tidak bisa. Dia selalu jadi korban lelucon.
Sara juga merasa sama lucunya. saat dia mendengar berita itu, sebuah cekikikan keluar sebelum dia berhasil mengontrolnya. Dia menggumamkan sesuatu mengenai bahwa suaminya butuh jauh lebih banyak dari yang dia miliki sekarang, lalu tertawa lagi.

Mereka tertawa karena itu adalah yang akan kamu lakukan saat seseorang berkata kalau dia dapat melakukan hal yang mustahil.
Mereka sedikit menertawakan Tuhan, tetapi lebih banyak tertawa bersama-Nya – Karena Tuhan tertawa juga. Lalu dengan tawa masih di wajah-Nya, Dia mulai sibuk mengerjakan apa yang terbaik – hal yang tidak bisa dipercaya.

Dia merubah beberapa hal—mulai dari merubah nama mereka. Abram, bapa dari seorang, sekarang menjadi Abraham, bapa dari segerombolan orang. Sarai, seorang yang mandul, sekarang menjadi Sarah, soerang ibu.
Bukan hanya merubah nama saja, tetapi Allah juga merubah pikiran mereka. Dia merubah iman mereka. Dia merubah angka pengurangan pajak mereka. Dia merubah cara mereka mendefinisikan kata mustahil.

Tetapi lebih dari segalanya, Dia merubah sikap Sarah mengenai percaya pada Tuhan. Kalau dia mendengar pernyataan Yesus tentang kurangnya iman, dia akan memberikan kesaksian “Dia benar. Aku melakukannya dengan caraku.Dan aku jadi sakit kepala. Aku biarkan Tuhan ambil alih, lalu aku dapat seorang putra. Kamu coba bayangkan. Yang aku tahu hanyalah bahwa aku satu-satunya wanita pertama di kota yang membayar dokter anaknya dengan cek jaminan sosial.”

* * * * * * *
Dua ratus tahu kemudian, ada kesaksian ke-2: (2 Luke 5)

Hal yang terakhir ingin kulakukan adalah menagkap ikan. Tetapi itu adalah persis seperti yang Tuhan ingin lakukan. Aku memancing semalaman. Badanku sakait semua. Mataku terasa pedas. Tenggorokanku kering. Sekarang yang ingin kukerjakan hanya pulang dan membiarkan istriku memijat punggungku yang pegal.

Itu adalah malam yang panjang. Aku tidak menghitung lagi sudah berapa banyak kali aku lemparkan jala ke kegelapan dan mendengarnya suara pukulannya saat menyentuh permukaan air lautan. Aku tidak tahu berapa bayak kali kita membelit tali saat jala tenggelam kedalam lautan. Semalaman kita menanti guncangan, tarikan, dan hentakan yang menandakan kalau kita umpan kita berhasil dan saatnya menarik jala….tapi tak pernah terjadi. dan pagi mulai menjelang, aku sudah mulai siap-siap pulang.
Persis saat aku akan meninggalkan pantai, aku melihat sekerumunan orang menuju ketempatku. Mereka mengikuti seorang laki-laki kurus, dengan langkahnya yang lebar-lebar dan berayun kiri kanan. Dai melihatku dan memanggil namaku, aku membalas, “pagi, Jesus”. walaupun 100 yards jauhnya, aku dapat melihat senyum-Nya memamerkan gigi-Nya yang putih. “ramai, ya!” Dia berteriak, menunjuk ke gerombolan di belakang-Nya. Aku mengangguk. dan duduk untuk menonton.

Dia berhenti dekat pinggir air dan mulai bicara. Walaupun aku tidak bisa mendengar banyak, tapi aku melihat banyak. Aku bisa melihat semakin banyak orang berdatangan. Dengan terdorong-dorong dan terdesak majumseperti itu, mengherankan Yesus tidak sampai terdorong jatuh kedalam air. Dia sudah separuh lutut berdiri dalam air saat Dia memandangku.
Aku tidak berpikir dua kali. Dia naik ke dlaam perahuku, dan Yohanes dan aku ikut naik. Kita mendorong kapal sedikit ke tengah. Aku bersandar ke busur kapal. Dan Yesus mulai mengajar. Kelihatannya seperti separuh dari orang Israel ada di pantai. Laki0-laki meninggalkan pekerjaan mereka. Perempuan meninggalkan pekerjaan rumahnya, Bahkan aku mengenal beberapa pendeta. Bagaimana mereka semua mendengar! hampir tidak bergerak. Hanya mata mereka menari-nari seolah bisa melihat apa yang mungkin terjadi. saat Yesus selesai mengajar, Dia berbalik kepadaku. Aku berdiri dan mulai menarik sauh, saat Dia bilang, “ayo kita melaut lebih dalam, Petrus, ayo menangkap ikan”.

Aku mengerang. Aku memandang Yohanes. Kita berpikir hal yang sama. Selama Dia ingin memakai perahu kami sebagai podium, boleh-boleh saja. Tapi memakainya untuk menangkap ikan – Itu adalah wilayah kita. Aku mau mulai memberitahu Sang guru,Si tukang kayu itu, “Urusan-Mu adalah memberi khotbah, urusan memancing adalah urusan kami”. Tapi aku lebih sopan :”Kita sudah bekerja semalaman, dan tidak menangkap apapun”.
Dia hanya menatapku. Aku memandang Yohanes. Yohanes menanti aba-aba dariku…
Aku harap aku bisa bilang aku melakukannya karena kasih, aku harap aku bisa bilang kalau aku melakukannya karena pengabdian. tapi kenyataanya tidak. Yang bisa kukatakan adalah bahwa ada saatnya untuk bertanya dan ada saatnya untuk mendengar. Jadi, lebih menyerupai gerutuan dari pada doa, kami mulai ke tengah laut.
Dengan setiap pukulan dayungku, aku menggerutu, dengan setiap tarikan dayungku aku mengomel. “tidak mungkin. tidak mungkin. mustahil, aku mungkin tidak tahu banyak, tetapi aku tahu tentang memancing. Dan yang kita dapat hanyalah pulang dengan jala yang basah.”
Suara berisik di pantai mulai menjauh. segera yang terdengar hanya suara ombak memukul lambung kapal. Akhirnya kita membuang sauh. aku memungut jala yang berat itu, mengangkatnya setinggi pinggang, dan mulai melemparnya. Saat itulah aku menangkap tatapan Yesus dengan sudut mataku, air muka-Nya membuatku terhenti ditengah gerakanku. Dia mencondongkan badan-Nya sehingga separuhnya terjulur keluar kapal, melihat ke air dimana aku melempar jalaku. Dan catat ini, Dia tersenyum. Seringai seorang anak laki-laki yang mendorong pipi-Nya tinggi-tinggi dan merubah mata-Nya yang bulat menjadi bulan sabit, senyum yang dapat kamu lihat saat seorang anak memberi hadiah kepada seorang teman dan menonton temannya membuka bungkus hadiahnya.
Dia menyadari aku melihat senyuman-Nya, dan Dia mencoba menyembunyikan senyum-Nya, tapi senyum itu tetap timbul. senyum itu mendorong sudut bibir-NYa sampai gusi-Nya terlihat. Dia sudah memberikan aku hadiah dan hampir tidak bisa mengontrol diri saat aku membuka bungkusnya.
“wah..apa Dia di sini utnuk mellihat kekecewaanku” aku berpikir demikian saat aku melempar jala. Jala itu terbang tinggi, merentang di langit biru dan mengambang turun sampai menyentuh permukaan air, lalu tenggelam. Aku melilitkan tali itu sekali kesekeliling tanganku, dan duduk untuk penantian yang panjang.
Tapi tak ada penantian. Jala itu mulai menarik dan menghentakkanku ke pinggir perahu. dan aku berteriak minta bantuan. Yohanes dan Yesus meloncat ke sampingku. kami berhasil menarik jala itu ke dalam kapal tepat sebelum jala itu akan robek. Aku belum pernah melihat tangkapan seperti ini. seperti membuang sekantung batu ke dalam kapal. Yohanes berteriak minta bantuan kepada kapal lain. Suatu pemandangan yang hebat : empat nelayan dalam dua perahu, dan seorang tukang kayu duduk di busur kapal, menikmati kejadian yang heboh itu.
Itulah saat dimana aku menyadari siapa Dia. dan saat aku menyadari siapa aku : Aku adalah orang yang memberitahu Tuhan apa yang Dia tidak bisa kerjakan!
“Pergi dari ku Tuhan, aku orang berdosa,” tak ada kata-kata lain yang bisa kuucapkan.
aku tidak tahu apa yang Dia lihat di dalamku, tapi Dia tidak pergi. Mungkin Dia berpikir, jika aku membiarkan Dia memberitahukanku bagaimana caranya menangkap ikan, aku akan membiarkan-Nya pula memberitahukanku bagaimana caranya untuk hidup….

Itu adalah kejadian yang bisa kita lihat sering kali beberapa tahun berikutnya – saat kejadian pemakaman di kuburan, di atas bukit dengan orang lapar, di tengah badai di laut dengan ketakutan, di pinggir jalan dengan orang sakit. Pemainnya, karakternya berubah, tapi temanya tetap. saat kita berkata;”tidak ada jalan”, Tuhan berkata; “ada jalan, jalan-Ku!”. dan orang yang awalnya ragu akan menggapai-gapai menyelamatkan berkatnya. dan Sang pemberi itu akan menikmati kejutan-Nya…..

* * * * * * *
“Kuasa-Ku paling besar di dalam orang yang lemah” Kasus ke-3 (2 Corinthians 12:9, 4 Philippians 3:4-6).
Allah mengatakannya. paulus menuliskannya. Allah mengatakan Ia mencari pembuluh darah yang kosong daripada otot yang kuat. Paulus membuktikannya.
Sebelum dia bertemu Tuhan, Paul dipandang seperti pahlawan di antara orang farisi. Kamu boleh bilang dia seperti Wyatt Earp nya mereka. Dia menjaga Hukum dan aturan, atau lebih tepat lagi, dialah hukumnya dan memberikan perintah. Ibu orang Yahudi yang baik mengambilnya sebagai contoh sebagai anak Yahudi yang baik. Dia mendapat kursi kehormatan di jamuan makan siang hari Rabu di Jerusalem Lion’s club. Dia memiliki penindih kertas “Who’s Who in Judaism” di atas mejanya dan terpilih sebagai “orang yang memiliki kesempatan paling besar untuk berhasil” saat kelulusannya. Dia segera menempatkan posisinya sebagai penerus gurunya, Gamaliel.
kalau ada hal seperti keuntungan rohani, Paulus memiliknya. Dia sangat kaya secara rohani, bilioner rohani, lahir dengan satu kaki di surga, dan dia menyadarinya : jika ada siapapun yang mempunyai alasan untuk berharap dapat menyelamatkan dirinya, orang itu adalah aku. kalau orang lain dapat diselamatkan berkat dirinya sendiri, pasti aku bisa! karena aku sudah menjalani upacara pentahbisan orang Yahudi saat aku berumur 8 tahun, dilahirkan dalam keluarga berdarah Yahudi asli, dan berasal dari keturunan asli keluarga Benyamin. Jadi aku adalah asli Yahudi jika memang ada orang seperti itu! Ada lagi, aku adalah anggota Farisi yang menuntut kepatuhan yang ketat pada setiap hukum dan adat Yahudi. Dan jujur? Ya, sebegitu jujurnya sampai aku menganiaya gereja, dan aku mencoba mematuhi setiap aturan Yahudi dan menerapkannya sampai titik penghabisan. Berdarah biru dan bermata liar, si fanatik muda ini bertekat bulat apapun akibat baik buruknya dalam menjaga supaya kerajaan itu murni – dan itu berarti menyingkirkan orang kristen. Dia bergerak sampai kepinggiran kota seperti seorang jenderal menuntut orang Yahudi memberi hormat kepada bendera kenegaraan atau mencium kleluarganya dan berbisik selamat tinggal. Tapi pada akhirnya semua itu berakhir, di bahu jalan raya. dengan berperlengkapan panggilan tertulis untuk tampil di pengadilan, borgol, dan sepasukan armada, Paulus dalam perjalanan untuk melakukan sedikit tindakan ‘penginjilan pribadi’ di Damaskus. Itu adalah saatnya seseorang terbanting karena seberkas cahaya yang silau dan mendengar suara.
Saat dia tahu suara siapa itu, rahangnya membentur ke tanah dan badannya menyusul. Dia menahan badannya dengan susah payah. Dia tahu semuanya sudah berakhir. dia merasakan jerat disekeliling lehernya. dia mencium bau bunga dalam kereta jenazah. Dia berdoa semoga kematian itu cepat dan tidak menyakitkan. Tapi yang dia dapat adalah kesunyian dan kejutan pertama kali dalam hidupnya

Dia bangun dalam keadaan bingung di sebuah kamar pinjaman. Allah membiarkan dia disitu beberapa hari dengan kondisi skala matanya terasa begitu tebal sehingga satu-satunya arah yang bisa dilihatnya adalah ke dalam dirinya dan dia tidak suka apa yang dia lihat.
Dia melihat dirinya yang sesungguhnya – memakai kata-katanya sendiri, yang paling buruk dari pendosa. seorang yang suka mengadili, suka membunuh, pembual yang sombong yang mengklaim dirinya menguasai kode Tuhan. seorang yang mencampur adukkan keadilan yang menimbang keselamatan dengan timbangan dapur. Itu kondisinya saat ditemukan Ananias.
Tidak ada yang istimewa yang bisa dilihat padanya – lesu, pucat dan gugup setelah 3 hari mengalami kekacauan. Sarai juga tidak istimewa untuk dipandang, Petrus juga. Tapi kesamaan yang dimiliki ketiga-tiganya menyatakan lebih banyak dari isi ajaran teologi yang sistematik. Saat mereka menyerah, Allah melangkah masuk. dan hasilnya adalah perjalanan dengan rollercoaster langsung menuju kerajaan surga. Paulus lebih sedikit unggul karena dia adalah pemimpin yang kaya. Dia lebih tahu bagaimana bernegosiasi dengan Tuhan. Tapi Tuhan tidak pandang bulu, paulus tetap harus memohon rahmat. sendirian dalam kamar bersama dosa dalam kesadarannya dan darah di tangannya, dia memohon supaya dibersihkan.
Perintah Ananias kepada Paulus layak untuk dibaca : “Apa yang kamu tunggu ? bangun dan biarkan dirimu dibaptis dan dosamu dibersihkan, panggil nama-NYa”
Dia tidak perlu disuruh dua kali, sang Ahli hukum Saulus sudah dikuburkan, dan Si pembebas Paulus dilahirkan. Dia tidak pernah menjadi sama lagi. Dan juga dunianya. Khotbah yang menghebohkan, rasul yang berdedikasi, 600 mil berjalan. kalau sandalnya tidak berkeplak, penanya menulis. Kalau dia tidak menjelaskan misteri rahmat, dia akan mengartikulasikan teologi yang akan menentukan arah peradaban Barat.
Semua kata-katanya dapat disingkat dalam satu kalimat. “Kami berbicara tentang penyaliban Yesus”. Bukan berarti dia kekurangan bahan khotbah. Hanya saja dia tidak pernah lelah membicarakan topik yang pertama. kemustahilan dari segala hal membuatnya tetap berjalan. Yesus mungkin sudah meninggalkannya di jalan. Dia bisa saja meniggalkannya dimangsa burung rajawali. Dia seharusnya mengirimnya ke neraka. Tapi itu tidak Dia lakukan. Dia mengirimnya ke orang-orang yang sesat.
Paulus sendiri mengatakan bahwa itu adalah kegilaan. Dia melukiskannya sebagai “rintangan” dan “kebodohan” tapi memilih pada akhirnya istilah “rahmat”. dan dia mempertahankan kesetiannya yang tak terhapuskan dengan berkata “kasih Tuhan tinggal padaku tanpa ada pilihan lain”. Paul tidak pernah kursus dalam sebuah misi. Dia tidak pernah duduk dalam rapat komite. Dia tidak pernah membaca buku tentang perkembangan gereja. Dia hanya terinspirasi oleh Roh Kudus dan seperti mabuk dalam kasih yang membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin : Penyelamatan.

5 1 Timothy 1:15.
6 Acts 22:16.
7 1 Corinthians 1:23.
8 1 Corinthians 1:23; Ephesians 2:8.
9 1 Corinthians 5:14 NEB.

Pesannya mencengkram : Tunjukkan kesalahan seseorang tanpa Yesus, maka hasilnya akan ditemukan di selokan pinggir jalan. beri seseorang agama tanpa mengingatkannya pada kemerosotan moralnya, dan hasilnya adalah arogansi dalam 3 lapis baju. Tapi buatlah dua lapisan dalam hati yang sama – buat orang berdosa untuk bertemu dengan Penyelamat dan Penyelamat untuk bertemu pendosa- dan hasilnya mungkin seorang pengkhotbah farisi yang bertobat dan malah mengobarkan api di dunia.

* * * * * * *
Empat orang : penguasa yang kaya, sarah, Petrus, Paulus. Benang yang ajaib menjalin keempatnya bersama – nama mereka. Ketiga nama terakhir telah diubah – Sarai menjadi Sarah, Simon menjadi Petrus, dan Saul menjadi Paulus. Tapi nama yang pertama, seorang profesional muda, tak pernah disebut namanya – mungkin itu adalah merupakan penjelasan yang paling jelas mengenai kegembiraan besar yang utama! Seorang yang mengenakan namanya sendiri adalah tak bernama, tetapi seorang yang memanggil nama Yesus -dan hanya nama-Nya- mendapat nama baru dan lebih lagi, hidup baru…

Bersambung BAB 2……
(diterjemahkan dari buku karangan Max Lucado)

Für Gott nichts unmöglich

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: