TRUSTING MORE, WORRYING LESS – BAB II. GOD’S SILENCE, OUR QUESTIONS

BAB II

http://www.maxlucado.com – (UpWords Ministry)

Matthew 14:1-12
Matthew 11:3-4.
Romans 8:26.

Dia adalah anak gurun. Wajah keras. Kulit terbakar matahari. Berpakaian kulit binatang. Apa yang dimiliki muat dalam satu kantong. Temboknya adalah gunung dan atapnya langit. Tapi tidak lagi. Perbatasannya ditembok, kaki langit disembunyikan. Bintang-bintang tinggal kenangan. Udara segar adalh segalanya tetapi terlupakan. Dan bau busuk pernjara bawah tanah tanpa mengenal belas kasihan mengingatkan anak gurun itu bahwa dia sekarang adalah tawanan raja.

Dalam buku siapa saja, Yohanes pembaptis akan menerima perlakuan lebih baik dari ini. Lagi pula, bukankah dia orang yang mempersiapkan kedatangan Kristus? Bukankah dia kerabat Mesias? dan terakhir, bukankah dia suara yang berani menyerukan pertobatan ?

Tetapi sering akhir-akhir ini, sebagai ganti membuka pintu pembaharuan, malah membuka pintu penjaranya sendiri.
Masalah Yohanes dimulai saat dia memanggil nama Raja di atas karpet. Dalam perjalanan ke Roma, Raja Herodes luluh terhadap godaan istri saudara laki-lakinya, Herodias. Memutuskan kalau Herodias lebih baik menikah dengannya, Herodes menceraikan istrinya sendiri dan membawa saudara perempuan iparnya itu ke rumah.
Para penulis gosip terpesona, tetapi Yohanes pembaptis bangkit amarahnya. Dia menyambar Herod seperti kalajengking di gurun, mencela perkawinana itu seperti adanya -zinah.
Herodes mungkin membiarkannya saja. Tapi tidak engan Herodias. penzinah yang panas itu tak akan membiarkan penanjakan sosialnya terekspos. Dia menyuruh Herodes utnuk menarik Yohanes dari arena bicaranya dan melemparkannya ke penjara bawah tanah. Herodes terdiam dan berpikir lama sampai dia berbisik dan merayu. Lalu Herodes menyerah.
Tapi itu tidak cukup buat Nyonya itu. Dia meyuruh anak gadisnya tampil dihadapan raja dan jendralnya dalam pesta bujangan. Herodes, yang mudah tertipu saat dia tergiur, berjanji akan melakukan apapun untuk barang cantik dan muda dalam G-String.
“Apa saja?”
“Sebut saja,” dia ngiler.
Dia berunding dengan ibunya, yang mnanti di suatu sayap, lalu kembali dengan permintaan.
“aku ingin Yohanes pembaptis”.
“kamu ingin berkencan dengan seorang nabi?”
“aku ingin kepalanya” balas si penari. lalu, dengan diyakinkan oelh anggukan ibunya, dia menambahkan, “dalam nampan perak, kalau kamu tidak berkeberatan”
Herodes menatap wajah di sekitarnya. Dia tahu ini tidak adil. tapi dia juga tahu bahwa setiap orang melihat kepadanya, dan dia sudah menjanjikan apa saja. walaupun secara pribadi dia mempunyai sesuatupun melawan pengkhotbah kota itu, dia menghargai pendapat suara terbanyak daripada menghargai nyawa Yohanes. Lagi pula, mana lebih penting – menyelamatkan mukanya atau leher nabi yang nyentrik ini?
Cerita ini menyengat dengan ketidak adilan. YOhanes mati karena nafsu Herodes. kebaikan dibunuh saat keburukan menyeringai.
Seorang dari Tuhan terbunuh saat seorang dari nafsu main mata dengan keponakannya perempuannya.
Inikah caranya Tuhan membalas yang di urapi-Nya? Inikah caranya Dia menghargai kesetiaannya? Inikah caranya Dia memahkotai yan g dipilih-Nya? dengan penjara bawah tanah yang gelap dan pedang yang mengkilap?
Ketidak konsistenan melebihi apa yang dapat Yohanes terima. Bahkan sebelum Herodes menjatuhkan vonisnya, Yohanes mengajukan pertanyaannya. Kecemasannya melebihi jumlah waktu saat dia melangkah dalam selnya mepertanyakan mereka. saat dia mendapat kesempatan untuk menyampaikan pesan kepada Yesus, dia bertanya, seorang dalam keputus-asaan : “saat Yohanes dalam penjara mendengar apa yang Kristus lakukan, dia mengirim pengikutnya dan bertanya kepada-Nya, “apakah Engaku orang itu yang akan datang, atau haruskah kita mengharapkan orang lain?”

* * * * * * *
Catat apa yang mendorong pertanyaan Yohanes. Bukan hanya karena penjara bawah tanah dan kematian, tetapi masalah harapan yang tak terpenuhi – kenyataan kalau YOhanes dalam kesulitan besar dan Yesus menjalankan urusannya seperti biasa.
Inikah yang Mesias lakukan saat masalah datang? inikah yang Tuhan lakukan saat pengikut-Nya terikat?
Kediaman Yesus cukup untuk memahat lubang dalam bendungan dari iman Yohanes. “apakah Engkau orangnya? ataukah aku telah mengikuti tuhan yang salah?”
Kalau alkitab ditulis oleh bagian PR (Publlic relation), mereka akan menghapus ayat ini. Ini bukan strategi promosi yang bagus dengan mengakui kalau salah satu anggota kabinet menyangsikan presidennya. Kamu tidak akan membiarkan cerita seperti itu keluar kalau kamu mencoba menampilkan bagian muka yang kompak. Tetapi Alkitab tidak ditulis oleh agen personal, ia terisnpirasi oleh Allah yang kekal yang tahu kalau setiap pengikut mulai nantinya akan menghabiskan waktu di penjara bawah tanah dari kesangsian. Walaupun situasinya berubah, tapi pertanyaannya tetap.

Mereka bertanya tiap kali orang beriman menderita akibat dari orang yang tidak beriman. Tiap kali seseorang mengambil langkah ke arah yang benar, hanya untuk mendapatkan kakinya KO di bawah wanita, tiap kali seorang melakukan perbuatan baik tapi menanggung akibat jahat, tiap kali seorang mau berdiri hanya berakhir rata diatas tanah dengan wajahnya. …Pertanyaan jatuh seperti air hujan :
“Jika Tuhan begiu baik, mengapa aku begitu terluka?”
“Jika Tuhan benar-benar ada, mengapa aku ada di sini?”
“Apa yang sudah aku lakukan sehingga menanggung ini?”
“Apakah Tuhan melakukan kecerobohan mengenai waktu ini?”
“Kenapa orang benar di siksa?”
dalam bukunya “Disappointment with God (kekecewaan dengan Tuhan)”, Philip Yancey mengutip surat yang menyuarakan masalah harapan yang tak terpenuhi dalam kenyataannya yang menyedihkan. Meg Woodson kehilangan dua anaknya akibat penyakit cystic fibrosis, dan kematian anak perempuannya saat usia 23 tahun menjadi trauma besar dalam hidupnya. Kata-kata berikut ini menyatakan kepedihan dan kesangsiannya saat dia berjuang mengatasi apa yang terjadi :
Aku duduk di samping tempat tidurnya beberapa hari menjelang ajalnya saat dia mulai berteriak. Aku tak akan pernah melupakan teriakan yang melengking, menusuk, dan mendasar itu….Itu melawan latar belakang manusia yang menjadi hancur…Tuhan, yang seharusnya menolong, melihat ke bawah ke seorang wanita muda yang bersetia kepadanya- bahkan cukup bersedia mati untuk kemuliaan-Nya, dan memutuskan untuk duduk berpangku tangan dan membiarkan kematiannya menduduki peringkat atas kolom horor kematian akibat cystic fibrosis.
Apakah terkadang Tuhan duduk berpangku tangan ? Apakah Tuhan terkadang memilih untuk tidak melakukan apa-apa? Apakah Tuhan terkadang memilih membisu bahkan saat saat aku berteriak sekuat-kuatnya?

* * * * * * *
Beberapa waktu lalu, aku membawa keluargaku ke sebuah toko sepeda untuk membeli sepeda untuk anak 5 tahun Jenna. dia memilih jenis “Starlett” yang berkilau dengan tempat duduk berbentuk pisang dan perangkat yang bisa menstabilkannya. Dan Andrea, umur 3 tahun, memutuskan dia ingin itu juga. aku menjelaskan kalau andrea terlalu muda. Aku bilang padanya kalau dia akan masih bermasalah dengan sepeda roda tiga dan terlalu kecil untuk sepeda roda dua. Tidak ada untungnya; dia masih ingin sepeda itu. Aku menjelaskan kalau dia lebih besar dia akan mendapatkan sepeda itu juga. Dia melotot kepadaku, aku coba bilang kepadanya kalau sepeda besar itu akan lebih banyak membawa penderitaan daripada kesenangan, lebih banyak lecet dari pada kesenangan. dia membuang muka dan tidak berkata apapun. akhirnya aku menghela nafas dan berkata kalau sekarang ini ayah tahu yang terbaik. Dab responsnya? dia meneriakkannya, cukup keras untuk didengar semua orang di toko : “kalau begitu aku ingin ayah baru!”
Walaupun perkataan itukeluar dari mulut anak kecil, tapi membawa sentimen orang dewasa. Kekecewaan menuntut poerubahan dari sebuah perintah. Saat kita tidak setuju dengan Dia mengontrol, reaksi kita sering kali sama dengan Andrea -sama dengan Yohanes, “apakah Dia orang yang tepat untuk pekerjaan itu?” atau, seperti YOhanes utarakan, “apakah kau orangnya? Haruskah kita mencari yang lain?”

Andrea, dengan kemapuan memberikan alasan seumuran 3 tahun, tidak dapat percaya kalau sebuah sepeda baru dapat menjadi sesuatu yang kurang baik untuknya. dari sisi keuntungannya, itu bisa menjadi sumber kebahagiaan abadinya, dari sisi keuntungannya, orang yang bisa memberi kebahgiaan itu hanya duduk berpangku tangan. Yohanes sedikitnya percaya kalau pembebasannya akan menjadi perhatian dari orang-orang yang terlibat. Menurut pendapatnya, itu saatnya menguji keadilan dan bertindak. tetapi Orang yang mempunyai kuasa melakukannya hanya duduk berpangku tangan.
Aku tidak dapat percaya bahwa Tuhan dapat duduk diam saat misionernya ditendang keluar dari sebuah negara asing atau seorang kristen kehilangan naik pangkatnya karena kepercayaannya atau istri yang disia-siakan oleh suami yang tidak percaya. Ini hanya tiga dari banyak daftar doa yang aku buat -semua doa yang kelihatannya berlalu begitu saja tanpa ada jawaban.

Hukum utama : kesangsian tercipta kalau udara yang hangat dan lembap dari pengharapan kita bertemu dengan udara dingin dari kediaman Tuhan.
Jika kamu mendengar kediaman Tuhan, Jika kamu dibiarkan dalam penjara bawah tanah dari kesangsian, maka percayalah ini : Mungkin Tuhan tidak diam, mungkin seperti yohanes, kamu mendengar jawaban yang salah. Yohanes mendengar jawaban dari masalah duniawinya, saat Yesus sibuk menyelesaikan masalah surgawi.
Layak untuk diingat lain kali saat kamu mendengar kediaman Tuhan. Jika kamu minta pasangan hidup tapi masih tidur sendiri…jika kamu minta penyembuhan tapi masih sakit….jangan berpikir Allah tidak mendengar. Dia mendengar! Dan abhakn Ia menjawab permintaan yang tidak pernah kamu buat.

Santa Teresa dari Avila memiliki pengertian yang mendalam untuk berdoa, “jangan menghukum aku dengan mengabulkan apa yang kuingini atau kuminta”
rasul Paulus jujur untuk menulis,” kita tidak tahu apa yang harus kita doakan”
Kenyataannya, Yohanes tidak minta terlallu banayk, dia minta terlalu sedikit. ia minta Bapa untuk menyelesaikan masalah sementara, sementara Yesus sibuk menyelesaikan masalah abadi. kesukaan segera, saat Yesus merancang solusi abadi.
Apakah itu berarti Yesus tidak peduli dengan ketidak adilan? Tidak! Dia peduli dengan penyiksaan.Dia peduli dengan ketidak adilan dan kelaparan dan prasangka. dan Dia tahu bagaimana rasanya dihukum untuk hal yang dia tidak lakukan. Dia tahu arti ungkapan, “hanya saja itu tidak benar'”
Karena itu tidak benar kalau orang meludahi mata yang meludah mata yang menangisi mereka, tidak benar kalau prajurit mencabik sebongkah daging dari punggung Tuhannya. Tidak benar kalau paku itu menikam tangan yang membentuk dunia. dan tidak benar kalau Putra Allah harus mendengar kediaman Allah. Itu tidak benar, tetapi terjadi.

Karena saat Yesus disalib, Tuhan hanya duduk berpangku tangan. Dia membalikkan punggung. Dia mengabaikan teriakan yang tidak berdosa itu. Dia duduk diam saat dosa dunia dibebankan ke atas Putra-Nya. Dan Dia tidak melakukan apapun saat ratapan yang sejuta kali lipat berdarahnya dibanding gema Yohanes di langit yang kelam : Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau membiarkan aku?”
Apakah itu benar? tidak!
Apakah itu adil? Tidak!
Apakah itu cinta ? Ya !!
Dalam dunia ketidak adilan, TUhan sekali dan selamanya menaikkan timbangan demi harapan. dan Dia melakukannya dengan duduk berpangku tangan agar kita bisa mengenal kerajaan Allah.

(diterjemahkan dari karangan Max Lucado)

Selamat hari minggu.
God loves you…..

Bersambung bab III….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: