TRUSTING MORE, WORRYING LESS, PART III. OUR FEAR, GOD’S FAITHFULNESS

“Mereka melihat Yesus…berjalan di atas air; mereka ketakutan.”Sebuah iman adalah sering menyerupai anak yang ketakutan. Ketakutan memaksa Petrus keluar dari kapal. Dia mengarungi ombak seperti ini sebelumnya. Dia tahu apa yang bisa diakibatkan badai seperti ini. Dia mendengar ceritanya. Dia melihat bangkainya. Dia kenal jandanya. Dia tahu kalau badai bisa membunuh. dan ingin keluar. Semalaman dia ingin keluar. selama 9 jam dia menarik layar, bertarung dengan kayuh, dan mencari bayangan kaki langit untuk sebuah harapan. Dia sudah lemah sampai ke jiwa dan tulang, letih akibat lolongan roh angin.Lihat ke dalam mata Petrus dan kamu tidak akan melihat seorang yang berkeyakinan teguh. teliti mukanya dan kamu tidak akan mendapatkan seringai kegagahan. Kemudian, kamu akan lihat keberaniannya di taman, kamu akan menyaksikan pengabdiannya di gereja Pantekosta, Kamu akan melihat imannya di surat-suratnya. Tetapi tidak malam itu. Lihat matanya dan saksikan ketakutan – nafasnya tercekik, dada berdebar-debar oleh ketakutan seorang yang tidak tahu jalan keluar.

Tapi dari rasa ketakutannya lahir tindakan iman, karena ketakutan seringnya merupakan anak yang penakut. “Takut akan Allah adalah awal dari kebijaksanaan” ditulis oleh orang bijak dalam kitab kebijaksanaan. Petrus dapat menjadi ilustrasi khotbahnya. Jika Petrus melihat Yesus berjalan di atas air saat teduh,siang hari yang damai, apakah kamu pikir dia akan berjalan keluar menuju kepada-Nya? Saya juga tidak akan.
Kalau danau itu adalah karpet yang halus dan perjalanan itu menyenangkan, apakah kamu pikir Petrus akan memohon Yesus membawanya berjalan-jalan santai di atas air? Meragukan. Tetapi berikan pilihan antara kematian yang pasti dan kesempatan yang gila, maka dia akan mengambil kesempatan itu…tiap saat.
Tindakan iman yang luar biasa sangat jarang lahir dari perhitungan yang tenang. Itu hal yang kadang tidak masuk akal. Itu yang membuat Musa mengangkat tongkatnya di laut merah. Bukan penelitian medis yang meyakinkan Naaman mencelupkan dirinya sebanyak 7 kali ke dalam sungai.
(1I John 6:19, Amsal 9:10, Kelluaran 14:15, 16.)

Iu bukanlah penalaran yang wajar yang mebuat Paulus mengabaikan hukum dan menerima rahmat. dan bukan komite kepercayaan yang berdoa di bilik kecil di yerusalem utnuk pembebasan Petrus dari penjara. Itu adalah ketakutan, keputusasaan, ikatan orang persaya yang terpojokkan. itu adalah gereja yang tidak punya pilihan lain. suatu perkumpulan yang mau tidak mau memohon pertolongan. Setiap permulaan dari tindakan iman, seringnya selalu hadir benih ketakutan.

* * * * * * *
Riwayat hidup dari rasul yang gagah berani dimulai dengan bab yang menceritakan tentang teror. ancaman kematian. ancaman kegagalan. ancaman kesepian. ancaman hidup yang terabaikan. ancaman kegagalan pengetahuan akan Allah.
Iman dimulai saat kamu melihat Allah di atas gunung dan kamu di lembah yang dalam dan kamu tahu bahwa dirimu terlalu lemah untuk mendaki. Kamu melihat apa yang kamu perlukan.. kamu melihat apa yang kamu punyai…. dan apa yang kamu punyai tidak cukup untuk mencapai apapun. Petrus mengerjakan yang terbaik, tetapi yang terbaik itupun tidak cukup. Musa menghadapi Lautan di depan dan musuh di belakang. Kaum Israel dapat menyebrang atau bertempur. Tapi tak ada satupun pilihan yang layak. Naaman mencoba macam-macam penyembuhan dan konsultasi dengan peramal. Melakukan perjalanan jauh untuk nyemplung kedalam laut berlumpur rasanya tidak masuk akal saat ada sungai yang bersih di belakang halaman rumahnya. Tetapi pilihan apa yang dia punyai?
Paulus menguasai hukum. Ia menguasai sistem. Tapi satu penampakan Tuhan meyakinkannya kalau kurban dan lambang saja tidak cukup. Gereja Yerusalem tahu mereka tidak punya harapan untuk mengeluarkan Petrus dari penjara. Mereka punya beberapa orang Kristen yang mau bertarung, tapi terlalu sedikit. Mereka punya pengaruh tetapi terlalu lemah. Mereka tidak perlu otot, mereka perlu mujizat. Demikian halnya dengan Petrus. dia sadar akan dua hal : dia akan turun ke bawah dan Yesus tetap di atas. Ia tahu dimana dia akan berada. Tak ada yang salah dengan responsnya. Iman yang dimulai dengan ketakutan akan berakhir di dekat BApa.
(2 Raja-raja 5:13, 14, Roma 3, Kis 12:6-17.)

* * * * * * *
Aku ke Texas beberapa waktu yang lalu dan berkhotbah dlam upacara pemakaman sebuah keluarga yang ber-Tuhan dan ber-keluarga. Dia membesarkan 5 orang anak. Seorang putra, Paul, bercerita tentang kenangan awalnya mengenai ayahnya. Saat itu musim semi di Texas Barat – musim tornado. Paul berumur 3 atau 4 tahun saat itu. Tetapi dia ingat dengan jelas hari dimana angin tornado melanda kota kecilnya. Ayahnya segera membawa anak-anaknya kedalam rumah dan tiarap di lantai dan dia menyelubungi mereka dengan sebuah karpet. Tetapi ayahnya sendiri tidak ikut merangkak ke bawah tempat persembunyian itu. Paul ingat mengintip dari celah karpet dan melihat ayahnya berdiri dekat jendela yang tebuka dan mengawasi corong awan memilin dan meliuk menyeberangi padang rumput. Saat Paul melihat ayahnya, da tahu dimana dia ingin berada. dia meronta keluar dari pelukan ibunya dan merangkak keluar dari matras, dan berlari dan melingkarkan tangannya di kaki ayahnya. “sesuatu mengatakan”, kata Paul, “tempat teraman dalam badai adalah di dekat ayahku.” Sesuatu mengatakan hal yang sama kepada Petrus.

* * * * * * *
“Tuhan, apakah itu engkau”, kata Petrus, “suruhlah aku untuk datang padamu berjalan di atas air”. Petrus tidak menguji Tuhan; dia memohon kepada Tuhan. Melangkah diatas air berombak bukanlah suatu pergerakan logis; itu adalah pergerakan dari keputus asaan.
Petrus memegang pinggir perahu. Mengeluarkan satu kaki keluar kapal…diikuti yang lainnya. beberapa langkah diambilnya. Seolah-olah ada bubungan dari bebatuan yang tidak kelihatan yang berada dibawah kakinya. Di ujung bubungan itu ada wajah yang bersinar dan teman yang tidak pernah mengucapkan kematian. Kita juga melakukan hal yang sama, kan? Kita datang kepada Tuhan di saat kita benar-benar butuh. Kita meninggalkan kapal dari usaha-usaha yang hebat. Kita sadar, seperti Musa, kalau kekuatan manusia tidak akan sanggup menyelamatkan kita. Kita melihat kepada Tuhan dalam keputusasaan. Kita sadar, seperti Paulus, bahwa semua pekerjaan baikdi dunia ini adalah demikan kecil saat diletakkan dihadapan Yang Maha Sempurna. Kita sadar, seperti Petrus, bahwa rentang jarak jurang antara kita dan Yesus adalah terlalu besar untuk ukuran kaki kita. Jadi kita memohon pertolongan. Mendengar suara-Nya. dan melangkah keluar dari ketakutan, berharap kalau iman kita yang lemah mencukupi. Iman tidak lahir dari meja negosiasi dimana kita menukar hadiah kita dengan kebaikan Allah. Iman bukan hadiah untuk orang yang belajar banyak. Bukan hadiah buat orang yang paling disiplin. Bukan anugrah untuk orang yang paling religius. Iman adalah keputusasaan seperti merangkak keluar dari kapal yang karam dari usaha dan doa manusia bahwa Tuhan akan menarik kita keluar dari air. Rasul Paulus menulis jenis iman ini dalam suratnya kepada jemaat di efesus: “karena rahmatlah kamu diselamatkan, melalui iman- dan ini bukan dari dirimu sendiri, itu adalah pemberian Tuhan-bukan dari pekerjaan, sehingga orang-orang dapat menyombongkannya.” Kata Paulus jelas. kuasa tertinggi dari keselamatan adalah dari rahmat Tuhan. Bukan karena pekerjaan kita. bukan karena talenta kita. bukan karena perasaan kita. bukan kekuatan kita. Kehadiran keselamatan Allah secara tiba-tiba dan teduh selama badai kehidupan kita. Kita mendengar suara-Nya; dan kita mengambil langkah.
( Matthew 14:28, Ephesians 2:8,9)

Kita seperti Petrus, sadar akan dua hal, kita adalah pendosa berat dan kita perlu seorang penyelamat. Kita seperti Petrus, sadar akan dua hal : kita turun ke bawah dan Yesus berdiri di atas. Jadi kita merangkak keluar. Kita meninggalkan kapal Titanic dari pembenaran diri dan berdiri di landasan yang kokoh dari jalan rahmat Tuhan. Dan, secara mengejutkan, kita sanggup berjalan di atas air. Kematian dilucuti. Kegagalan diampuni. Hidup memiliki maksud yang nyata. Dan Tuhan tidak hanya dalam lingkup penglihatan, tetapi dapat dijangkau. Dengan langkah yang berharga, tertatih-tatih, kita menarik langkah mendekat kepada-Nya. Selama masa dari kekuatan yang mengejutkan, kita berdiri di bawah naungan janjinya. Kelihatannya tidak masuk akal kita sanggup melakukan ini. Kita tidak menuntut untuk menjadi berharga untuk sebuah hadiah yang sebegitu luar biasa. Saat orang-orang bertanya bagaimana mungkin kita dapat menjaga keseimbangan kita di saat-saat badai melanda, kita tidak membual. Kita tidak menyombongkan diri. Kita menunjuk dengan tidak tahu malu ke Seorang yang membuatnya mungkin. Mata kita tertuju kepada-Nya. “Tak ada sesuatupun aku bawa dalam tanganku, cukup bergantung pada salib-Nya,” kita bernyanyi. “kenakanlah kebenaran-Nya saja, kesalahan di serahkan kehadapan-Nya,” kita menyatakan. “Rahmat-Nya mengajarkan hatiku untuk gentar, dan rahmat membuat ketakutanku pulih,” kita menjelaskan.
Beberapa dari kita, tidak seperti Petrus, tidak pernah melihat balik. Yang lainnya, sperti Petrus, merasakan angin dan menjadi takut. Mungkin kita merasakan angin keangkuhan : “aku bukan seorang pendosa yang seburuk itu. Lihat apa yang bisa kukerjakan.” Mungkin angin keadilan, “aku tahu Yesus mengerjakan bagian ini, tapi sisanya harus aku yang mengerjakan,” demikian pula banyak dari kita menghadapi angin keraguan, “aku terlalu buruk untuk mendapat perlakuan baik Tuhan seperti ini. Aku tidak layak mendapat penyelamatan seperti ini.” Dan ke bawahlah kita terjun. Diberatkan oleh lesung kematian, kita tenggelam. Mereguk air dan terdera, dan kita jatuh kedalam kegelapan., dunia yang basah. Kita membuka mata dan melihat hanya kegelapan. Kita mencoba bernafas, tak ada udara yang masuk. Kita menerjang dan berjuang menemukan jalan kembali ke permukaan. Dengan kepala jauh dari permukaan air, kita harus membuat keputusan. Pertanyaan yang berharga : “Akankah kita menyelamatkan muka tapi tenggelam dalam kesombongan ? atau kita berteriak mnta pertolongan dan menggapai tangan Tuhan?”

Ahli hukum bertanya : “Akankah kita tenggelam di bawah muatan hukum yang berat? Ataukah kita meyerahkan kode-kode itu dan memohon rahmat? “ Orang yang ragu bertanya :”apakah kita memelihara keraguan dengan bergumam, ‘saat ini saya benar-benar membiarkannya tenggelam’ ataukah kita berharap bahwa Tuhan yang sama yang memanggil kita keluar dari kapal akan memanggil kita keluar dari lautan?” Kita tahu pilihan Petrus, “saat dia mulai tenggelam, dia berteriak, ‘Tuhan, selamatkan aku!” “segera Yesus menjulurkan tangan-Nya dan menangkap dia.”

* * * * * * *

Kita juga tahu pilihan pelaut lain di situasi badai yang lain. Walaupun terpisah 17 abad lamanya, pelaut dan Petrus ini terhubungkan oleh beberapa kesamaan yang mencolok :
– berdua mereka hidup dari lautan.
– Keduanya bertemu Penyelamat setelah 9 jam pergumulan dalam badai.
– Keduanya bertemu Bapa dalam ketakutan dan lalu mengikuti-Nya dengan iman
– Keduanya keluar dari perahu dan menjadi pengkhotbah sabda kebenaran.

Kamu tahu cerita tentang Petrus, pelaut yang pertama. Biarkan aku bercerita tentang pelaut yang kedua, yang bernama John. Dia melaut sejak berumur 11 tahun. Ayahnya, seorang ahli perkapalan di Mediteranian, membawanya melaut dan melatihnya dengan baik selama hidupnya di angkatan laut Royal. Tetapi walaupun John mendapat pengalaman, dia kurang disiplin. Dia mengejek kekuasaan. Bergaul dengan komunitas yang salah. Terbuai oleh cara hidup yang keliru dari seorang pelaut. Walaupun pelatihannya akan sanggup memampukannya untuk melayani sebagai seorang karyawan, tetapi prilakunya membuat dia didera dan diturunkan pangkatnya. Dalam awal usianya yang ke dua puluh, dia melakukan perjalanan ke Afrika, dimana dia terlibat dalam perdagangan budak yang menguntungkan. Pada usia 21, dia menjalani kehidupan di Greyhound, nama sebuah kapal budak yang menyebrangi samudra Atlantik. John mengejek moral dan memperolok agama. Dia bahkan memperolokkan sebuah buku yang pada akhirnya akan membentuk ulang kehidupannya : Peniruan Tuhan (The Imitation of God). Kenyataanya, dia merendahkan buku itu beberapa jam sebelum kapalnya berlayar dalam lautan yang mengamuk. Malam itu ombak menghantam Greyhound, memutar kapal itu selama satu menit di puncak ombak. Kemudian melemparkannya ke dalam lembah ombak. John terbangun dan mendapatkan kabin sudah terisi penuh dengan air. Satu sisi dari Greyhound sudah tenggelam. Seharusnya kerusakan separah itu telah menenggelamkan kapal ke dasar laut dalam hitungan menit. Tetapi kapal Greyhound itu, bagaimanapun juga, membawa muatan apung dan tetap terapung. John bekerja memompa air keluar semalaman. Selama 9 jam, dia dan pelaut lainnya berjuang mencegah kapal tenggelam. Tapi dia tahu itu hanyalah kegagalan. Akhirnya saat harapannya mulai semakin tergempur dari pada kapal itu sendiri, dia melemparkan dirinya kedalam dek kapal yang basah oleh air garam dan memohon, “kalau ini tidak berhasil, maka Tuhan lah yang akan mengasihani kita semua.” John tidak layak untuk sebuah belas kasihan, tetapi dia menerimanya. Greyhound dan awak kapalnya selamat. John tidak pernah melupakan belas kasih Tuhan di saat-saat yang penuh cobaan dalam amukan samudra Atlantik. Dia kembali ke Inggris dimana dia menjadi composer yang diberkati. Kamu menyanyikan lagunya, seperti yang ini : (judul : Amazing Grace)
‘Rahmat Tuhan! Begitu manis kedengarannya. Yang telah meyelamatkan sampah seperti aku. Aku telah tersesat, tetapi sekarang ditemukan, aku dulu buta, tetapi sekarang melihat’.
Pedagang budak yang berubah menjadi penulis lagu itu bernama John Newton. Bersamaan dengan penulisan lagunya, dia juga menjadi pengkhotbah yang berpengaruh. Hampir 50 tahun lamanya, dia mengisi mimbar dan gereja dengan cerita Sang Penyelamat yang bertemu denganmu dan saya dalam badai. Satu atau dua tahun sebelum kematian-Nya, orang-orang mendesaknya berhenti memberikan khotbah karena penglihatannya menurun. “Apa!” dia menerangkan, “Akankah seorang gembala Afrika tua ini berhenti saat dia masih bisa bicara?”
Dia tidak akan berhenti. TIdak bisa. Apa yang dimulai dengan doa dari rasa takut akan Allah menghasilkan iman seumur hidup. Selama tahun-tahun terakhirnya, seseorang menanyakan kesehatannya. Dia mengakui kekuatannya melemah, “ingatanku hampir hilang, “katanya, “tetapi aku ingat dua hal : Aku adalah pendosa, dan Yesus adalah penyelamat yang maha besar.”
Apa lagi yang perlu aku ingat?

* * * * * * *
Dua pelaut dan dua lautan. Dua kapal dalam badai. Dua doa dalam ketakutan dan dua hidup dalam iman. Disatukan oleh satu Penyelamat – satu Tuhan yang berjalan mengarungi neraka atau puncak air untuk menjulurkan tangan-Nya yang menolong kearah anak yang menangis minta pertolongan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: