TRUSTING MORE, WORRYING LESS. PART IV. OUR WORRIES, GOD’S PROMISES

OUR WORRIES, GOD’S PROMISES
Ada badai salju, ada angin puyuh, ada hujan badai, dan ada badai keraguan. Seringnya tiap kali badai keraguan itu melanda kehidupan kita, membawa hujan pertanyaan yang membingungkan dan terjangan angin ketakutan. Dan segera setelah badai itu tiba, ada seberkas cahaya kilat melaluinya. Kadang badai itu datang setelah berita malam. Beberapa kali aku bertanya-tanya mengapa aku menontonnya. sering rasanya sudah keterlaluan. Dari langkah pengadilan tinggi sampa langkah ke Afrika Selatan, berita itu biasanya suram…30 menit berita tragedi…seorang pembawa berita yang tampan dalam pakaian bagus dan suara yang hangat membacakan berita buruk. Mereka menamai penyaji berita ini dengan istilah ‘anchorman’. Panggilan yang bagus. Orang butuh sauh di tengah air yang bergolak dewasa ini.

Kadang aku bertanya, mengapa bisa dunia kita menjadi begitu kacau? Kadang badai itu datang di tempat kerja. Cerita demi cerita dari rumah yang tidak bisa disembuhkan dan hati yang tidak luluh. Selalu lebih banyak kelaparan daripada makanan yang tersedia. Lebih banyak kebutuhan daripada uang. Lebih banyak pertanyaan dari pada jawaban. Pada hari minggu aku berdiri di depan gereja dengan 3 poin ringkasan ditanganku, 30 menit waktu yang ditunjukkan jam dinding, dan doa di mulutku. Aku melakukan yang terbaik untuk mengatakan hal-hal yang bisa meyakinkan orang asing bahwa Allah yang tidak kelihatan masih mendengar. Dan kadang aku bertanya-tanya mengapa begitu banyak hati yang harus terluka.
Pernahkah kamu mengalami badai keraguan? Beberapa darimu tidak, aku tahu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, beberapa darimu memiliki kepercayaan seperti David yang mengalahkan Goliath. Aku dulu berpikir ynag terbaik kamu begitu naïf atau yang terburuk kamu gadungan. Tapi sekarang aku tidak berpikir demikian lagi. Aku pikir kamu berbakat. Kamu diberi karunia iman. Kamu bisa melihat pelangi sebelum awan sirna. Jika kamu memiliki karunia ini, maka loncati bab ini. Aku tidak akan bilang hal yang kamu perlu dengar. Tetapi jika yang lainnya bertanya-tanya…..kamu bertanya-tanya mengapa yang lainnya tahu hal yang kamu tidak tahu. Kamu bertanya-tanya kamu yang buta atau orang lain. Kamu heran mengapa beberapa orang berseru ‘eureka’ sebelum emas ditemukan. Kamu heran mengapa beberapa berseru ‘daratan…’ sebelum kabut sirna. Kamu heran mengapa beberapa orang percaya dengan begitu mantap sementara kamu percaya dengan enggan. Sebagai hasilnya, kamu merasa kurang nyaman dengan bangku gereja yang terisi orang-orang dengan kepercayaan yang buta. Pahlawanmu dalam injil ialah Thomas. Nama tengahmu adalah waspada. Pertanyaanmu adalah kehancuran buat tiap guru sekolah minggu. “kalau Tuhan baik, mengapa kadang aku merasa buruk?”, “jika pesan ini sangat jelas, mengapa aku begitu bingung?”, “Jika Bapa memegang kontrol, mengapa orang-orang baik mengalami masalah yang menyedihkan?”. Kamu bertanya-tanya apakah ini berkat atau kutuk memiliki pemikiran yang tidak pernah tenang. Kamu lebih memilih menjadi orang yang sinis daripada munafik, jadi kamu terus berdoa dengan satu mata terbuka dan bertanya-tanya :
-tentang anak yang kelaparan
-tentang kekuatan doa
-tentang dalamnya rahmat
-tentang orang kristen di bangsal kanker
-tentang siapa sih dirimu hingga bertanya sebegitu banyak pertanyaan.
Pertanyaan yang sulit. Pertanyaan yang pasti ditanyakan oleh para rasul di tengah badai. Yang bisa mereka lihat hanyalah langit kelam saat mereka terayun dalam kapal yang digempur ombak. Awan mendung yang mengaduk-aduk. Selubung putih yang terbagi oleh angin. Pesimisme yang mengubur garis pantai. Kesuraman yang membasahi busur kapal. Apa yang bisa membuat perjalanan menjadi menyenangkan jika itu hanyalah perjalanan yang bikin pucat pasi mengarungi lautan ketakutan. Pertanyaan mereka—harapan apa yang kita punya agar selamat melewati malam berbadai ini? Pertanyaankku—dimana Tuhan saat dunianya berbadai? Badai keraguan : hari-hari yang pernuh turbulensi saat musuh kita terlalu besar, tugas terlalu berat, masa depan terlalu suram, dan jawaban terlalu sedikit. Seringnya tiap badai akan dating, kita melihat ke atas langit gelap dan berkata, “Tuhan, sedikit sinar ya?”
Sinar itu dating dari para rasul. Sebuah figur datang dari mereka berjalan di atas air. Itu bukan yang mereka harapkan. Mungkin mereka mencari malaikat yang turun atau surga terbuka. Mungkin mereka mendengar suara Ilahi bergemuruh untuk menenangkan badai. Kita tidak tahu apa yang mereka cari. Tapi satu hal yang pasti, mereka tidak menantikan Yesus datang berjalan di atas air. :”Itu hantu,” kata mereka dan meratap ketakutan.(Mat. 14:26). Dan karena Yesus datang dengan cara yang tidak mereka harapkan, mereka juga kehilangan penglihatan terhadap jawaban doa mereka. Dan kalau kita tidak lihat dan dengar dengan teliti, kita mengambil resiko melakukan kesalahan yang sama. Cahaya Tuhan dalam kegelapan malam sebanyak bintang-bintang di langit, jika saja mau kita cari. Dapatkah aku berbagi sedikit cahaya itu denganmu, cahaya yang menyinari duniaku baru-baru ini?

* * * * *
Seorang teman dan aku duduk didepan rumah di dalam mobilnya dan berbincang tentang dilemanya. Klien utamanya meninggalkannya dengan uang banyak dan sedikit solusi. Apa yang dilakukan klien ini tidak benar, tapi dia melakukannya juga. Perusahaan kliennya itu besar dan temanku hanyalah orang kecil. Dan tidak banyak yang bisa dia lakukan. Temanku ditinggal dengan segerombolan singa lapar yang menginginkan 6 angka nilai kepuasan. “aku mamanggil pamanku dan bilang padanya apa yang terjadi. Aku bilang aku berpikir untuk mendaftar sebagai bangkrut saja.“. “Dia bilang apa?” tanyaku. “dia tidak bilang apapun,” temanku menjawab. Setelah kami diam sekian lama, aku berkata kepadanya, “kita tidak suka melakukannya kan?”. “tidak, kita tidak ingin,” dia menyahut. “jadi aku akan membayar rekeningnya. Jika aku harus menjual rumah, akan kubayar”
Aku mejadi bersemangat. Seseorang masih percaya kalau apa yang dia benar, maka Tuhan akan mengerjakan yang terbaik. Masih ada iman seperti ‘kita tidak akan melakukan hal seperti itu’ di dalam dunia. Dan langit mulai menjadi terang.

* * * * *
Cahaya kedua datang dari bangsal kanker. „Kami akan merayakan 44 tahun besok,“ Jack berkata, menyuapi istrinya. Wanita itu pemberani. Matanya kuyu, dan kata-katanya tak jelas. Dia melihat lurus ke depan, hanya membuka mulut saat sendok mendekati mulutnya. Suaminya mengusap pipi istrinya. Mengusap alisnya. “dia sudah menderita sakit selama 5 tahun,”dia berkata kepadaku. “dia tidak bisa berjalan, tidak bisa merawat dirinya sendiri, bahkan tidak bisa makan sendiri. Tapi aku mencintainya. Dan,”dia berbicara lebih keras supaya istrinya mendengar, “kita akan mengalahkan hal ini, ia kan saying?” dia menyuapinya sedikit dan berkata lagi, “kami tidak punya asuransi. Saat aku bisa membayarnya, kupikir aku tidak membutuhkannya. Sekarang aku berhutang ke rumah sakit lebih dari $50,000.” Dia terdiam sejenak, saat dia memberi isitrinya minum, lalu melanjutkan, „tapi mereka tidak mendesakku. Mereka tahu aku akan bayar, tapi mereka membiarkanku tanpa bertanya apapun. Dokter memperlakukan kami seperti pasien yang memberi bayaran terbesar. Siapa yang bisa membayangkan kebaikan seperti ini?“ aku harus setuju dengannya. Siapa yang bisa membayangkan kebaikan seperti itu? Didunia yang rumit dengan teknologi canggih, mahal, dan hujan kritik terhadap pelayanan kesehatan, hal itu menjamin kita dapat menemukan professional yang melayani dua orang itu yang tidak punya apa-apa untuk membalasnya. Jack berterima kasih atas kedatanganku, dan aku berterima kasih pada Tuhan bahwa sekali lagi sebuah kekuatan cahaya mengingatkanku tentang matahari di balik awan
.
* * * * *
Lalu, beberapa hari yang lalu, cahaya terakhir.
Larry Brown adalah pelatih di ‘San Antonio Spurs’, sebuah tim professional bola basket. Aku tidak kenal dia secara pribadi (walaupun rumor mengatakan kalau dia ingin aku menandatangani kontrak untuk bertahun-tahun dan bermain sebagai pelindung tim mereka….fantasi yang bagus).
Coach Brown baru-baru ini menghabiskan sorenya disebuah toko pria, memberikan tanda tangannya. Dia direncanakan menghabiskan waktu selama 2 jam, tapi akhirnya menjadi 3 jam. Anak-anak dengan pensil dan alas tulis mengepung tempat itu, mengajukan pertanyan dan bersalaman. Saat dia behasil menyelinap keluar dan naik ke mobilnya, hanya untuk menyaksikan pemandangan yang menyentuh. Seorang anak yang datang terlambat, mempercepat kayuhanya, loncat dari sepedanya, dan berlari ke jendela untuk melihat apakah pelatih itu masih di dalam toko. Saat dia melihat kalau pelatih itu tidak ada lagi di dalam, dia berbalik dengan pelan dan sedih, berjalan menghampiri sepedanya dan mulai mengayuh pergi.
Coach Brown mematikan mesin mobilnya, keluar dari mobil, dan menghampiri anak laki-laki itu. Mereka berbincang beberapa saat, pergi ke toko obat disebelahnya, duduk di meja, dan memesan minuman ringan. Tidak ada reporter disekitar situ. Tidak ada camera yang menyala. Selain dua orang ini yang tahu, tidak ada lagi yang tahu. Aku yakin Larry Brown memiliki hal lain yang harus dilakukan sore itu. Tidak diragukan kalau dia punya janji lain yang harus dipenuhi. Tapi meragukan kalau apapun yang mungkin akan dia lakukan sore itu lebih penting dari yang sekarang dilakukannya. Dalam dunia olar raga profesional yang terkenal dan gemerlapan, aku merasa sangat senang mendengar satu dari pelatih itu masih mempunyai hati. Mendengar apa yang sudah dilakukannya cukup menyibakkan awan keraguan yang masih bergelantungan dan meninggalkanku diam dalam cahaya Tuhan yang hangat…cahaya kelembutannya.

* * * * *
cahaya kelembutan. Solusi Tuhan untuk badai keraguan. Cahaya keemasan yang memercikkan harapan ke dalam kegelapan. Tidak ada petir. Tidak ada ledakan cahaya. Hanya cahaya yang lembut. Seorang pengusaha memilih kejujuran, sebuah rumah sakit memilih belas kasih. Seorang selebiriti memilih kebaikan. Bukti yang terlihat dari tangan yang tidak kelihatan. Peringatan yang halus kalau optimisme bukan hanya kebodohan. Lucu, tak ada satupun kejadian itu yang ‘religius’. Tak ada satupun pertemuan terjadi dalam upacara atau ibadah gereja. Tidak ada yang masuk dalam berita jam 6. Tetapi hal seperti itu dalam kotak dengan cahaya yang lembut.
Saat para rasul melihat Yesus ditengah malam berbadai mereka, mereka menyebutnya hantu. Halusinasi. Bagi mereka, sinar itu adalah segalanya kecuali Tuhan. Saat kita melihat cahaya lembut di kaki langit, kita sering memiliki reaksi yang sama. Kita menghilangkan kebaikan yang kadang terjadi dengan menyebutnya khayalan, kebetulan, atau kelainan. Semuanya, kecuali Tuhan.
“Saat Tuhan datang,” para rasul dalam kapal mungkin berpikir, “Dia akan membelah langit. Lautan akan tenang. Awan akan buyar.”.
“Saat Tuhan datang,” kita orang yang ragu-ragu berpikir, “semua kepedihan akan pegi, hidup akan menjadi tenang. Tak ada lagi pertanyaan yang tinggal.”
Dan karena kita mencari api unggun, kita kehilangan lilin. Karena kita mendengar teriakan, kita kehilangan bisikan. Tetapi Tuhan datang dalam kilauan lilin, lewat bisikan dia berkata, “saat kamu ragu, lihat sekelilingmu, Aku lebih dekat dari yang kamu pikirkan.”

Trust in the Lord with all your heart.
if you can’t He can, and He will !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: